Posted by DIAZ
Wednesday, February 6, 2013
Pribadi yang luar biasa akan selalu berdekatan dengan keajaiban-keajaiban. Ada sebuah hal yang sangat unik ketika kita melihat ada orang yang bekerja 7 hari seminggu.. siang dan malam, tetapi hidupnya tetap saja seperti itu. Tetapi di sisi lain ada orang-orang yang bisa bekerja secara biasa-biasa saja.. ia dapat meraih banyak kesuksesan dalam waktu yang cukup singkat, sekalipun dulu ia miskin. Hidupnya selalu dipenuhi dengan keajaiban dan keberuntungan, ia seolah selalu lekat dengan dua hal itu tadi..
Untuk selalu dekat dengan keajaiban-keajaiban tersebut.. minimal, ada tiga hal yang harus dipahami dalam hidup ini. Yaitu:
1. Melihat Semua Sebagai Anugerah
mungkin semua tahu, yang dimaksudkan adalah ‘bersyukur atas semuanya’. ‘Semua’ di sini bukan sekedar rahmat Tuhan terhadap hidup kita sendiri.. tetapi benar-benar SEMUANYA.. Jika engkau belum bisa melihat bagaimana langit bisa berwarna biru, bagaimana air selalu mengalir ke tempat yang rendah, dan bagaimana burung bisa bernyanyi sebagai sebuah keajaiban.. engkau belum bisa dianggap bersyukur.
Bumi ini indah, dan telah diciptakan sempurna sebagaimana adanya. Terdiri dari tatanan makrokosmos dan mikrokosmos yang sedemikian rumitnya.. di mana semuanya membentuk sebuah mata rantai yang berujung pada hubungan sebab dan akibat. Memang di sana ada kekerasan, kemunafikan, penipuan, atau apalah.. tapi ini hanya sebuah bagian dari roda yang terus berputar.. untuk mencapai pada sebuah keseimbangan.
Rubahlah cara pandang kita terhadap semesta dan lingkungan sekitar. Bukankah hanya orang-orang yang mengenal keajaiban itu sendiri yang bisa dekat keajaiban? bagaimana keajaiban itu bisa datang dalam hidup kita jika kita sama sekali tidak mengenal.. bahkan tidak bisa melihatnya?
2. Cintai dan Hargailah Hidup
Hargai hidup ini sebagai mukjijat. Bukan hanya sebagian dari hidup kita saja.. melainkan seluruh hidup kita. Termasuk setiap perlakuan tidak enak, setiap kebencian, setiap kesialan, setiap sakit, setiap kemarahan. Hidup bisa diartikan pula sebagai kenyataan yang kita hadapi setiap hari. ‘Menerima kenyataan’ hanyalah sebagian dari mencintai hidup.. dan itu masih belum cukup.. kita harus ‘mencintai kenyataan’ itu sendiri sebagai sebuah bagian dari rantai kehidupan seperti yang telah dibahas di atas.
Apa yang kita lakukan dan ucapkan, bahkan yang kita pikirkan dan rasakan.. akan selalu berpengaruh terhadap lingkungan sekitar.. setiap aura – entah positif maupun negatif yang terpancar dalam diri kita, akan terserap oleh alam.. membentuk sebuah lingkaran besar hubungan timbal balik alam semesta – yang pada akhirnya akan berbalik pada diri kita sendiri. Beberapa orang menyebutnya sebagai karma, sebagian lagi ada yang menyebutnya sebagai hukum tabur-tuai.
Kadangpula lingkaran ini mengalami berbagai penguatan di sana sini, sehingga akibat yang ditimbulkannya juga bisa berlipat ganda.. taburkan kebaikan.. maka kita akan menerima kebaikan pula, lengkap dengan ketulusan dan senyuman.. dan taburkan angin, maka kita akan menuai badai.
3. Berterima Kasih
Berterima kasih berbeda dengan bersyukur. Bersyukur adalah rasa terdalam di hati.. bahkan di alam bawah sadar kita. Tetapi ‘berterima kasih’ adalah aplikasi dari rasa bersyukur itu sendiri. Berterima kasih adalah sebuah tindakan nyata yang harus kita lakukan sebagai tanda bahwa kita sedang bersyukur..
Mencintai sesama dengan tulus hanya salah satunya. Menghargai keluarga, memberi waktu yang cukup bagi mereka, dan bisa memberi apa yang mereka butuhkan adalah salah satu cara.. Jika mungkin, cobalah terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial.. bukan sekedar hanya agar terlihat, sebaliknya, sembunyikan itu.. biar Allah saja yang tahu kita sedang berbuat itu..
Jika apa yang kita lakukan hanya sebatas ingin terlihat.. maka rantai balasan syukur sudah kita dapatkan.. dan sebagai akibatnya, Allah akan urung membagi rantai balasan pada kita. Berikan tanpa harapkan apapun.. biarkan semuanya itu larut dalam air kehidupan, yang nanti pada waktunya akan mengalami banyak penguatan.. dan suatu saat alam akan membalasnya.. lengkap dengan bunga-bunganya. :-)
Baca Selengkapnya ....
Posted by DIAZ
Tuesday, February 5, 2013

1.> Siapakah orang yang sibuk ?
Yaitu orang yg suka menyepelekan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s
2.> Siapakah orang yg manis senyumannya ?
Yaitu orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata "Inna lillahi wainna
illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata,"Ya Rabb, Aku redha dengan
ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.
3.> Siapakah orang yang kaya ?
Yaitu orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
4.> Siapakah orang yang miskin ?
Yaitu orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.
5.> Siapakah orang yang rugi ?
Yaitu orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.
6.> Siapakah orang yang paling cantik ?
yaitu orang yang mempunyai akhlak yang baik.
7.> Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas ?
Yaitu orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.
8.> Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit ?
Yaitu orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.
9.> Siapakah orang yang mempunyai akal ?
Yaitu orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.
Lalu Siapakah Kita?
Baca Selengkapnya ....
Posted by DIAZ
Sunday, February 3, 2013
Saya
mendekati taksi biru itu. Sebenarnya saya ragu, karena Kramat Raya
bukan jarak yang jauh dari Cempaka Emas, tempat saya berdiri sekarang
ini. Paling 10-15 menit sudah sampai. Jarak sedekat itu tentu tidak
sebanding dengan lamanya sopir taksi tersebut mangkal di tempat ini.
Oleh karenanya, saya sudah bersiap untuk tidak kecewa. Saya buka pintu
belakang taksi itu. "Kramat Raya, Pak?"
tanya saya setengah ragu. "Mari, Pak!" kata sopir taksi itu mengiyakan,
tanpa berpikir sejenakpun. Tentu saja saya gembira, karena tidak
menyangka lelaki itu bakal mau mengantar.
Saya segera naik ke
jok belakang, menutup pintu. Taksi pun melaju. Sebentar kemudian
berputar 180 derajat di perempatan Cempaka Putih. Sekarang melaju ke
arah Senen.
"Kok Bapak mau ke Kramat? Kan jaraknya dekat aja, Pak?" tanya saya
memancing.
"Kita kan tidak pernah tahu ada apa di balik yang dekat itu, Pak,"
katanya sejenak kemudian. Senyumnya saya lihat di spion atas kepalanya.
"Jika penumpang yang jarak dekat tidak diambil, rasanya seperti tidak
menghargai Tuhan yang membagi rezeki buat kita."
Berkata bijak
ternyata bukan hanya monopoli kaum filosof. Tetapi juga bisa keluar dari
mulut Firmansyah, begitu nama yang terpampang di dashboard, seorang
sopir taksi bersahaja yang saya temui pagi ini.
Maka meluncurlah cerita "filosof" yang sopir taksi itu.
"Saya banyak mengalami, kadang memang rasanya gimana gitu ketika sudah
lama ngantri, ternyata dapat penumpang yang dekat," katanya sembari
menarik napas perlahan. "Dapat lagi, dekat lagi. Dapat lagi, dekat
lagi."
Saya cuma tersenyum. Tentu saja saya bisa merasakan
"duka" itu. Seperti kita mengharapkan durian runtuh, tetapi apa daya
jika kenari yang ternyata melayang jatuh.
"Tetapi, tak jarang,"
imbuh lelaki itu, "saya dapat yang dekat-dekat, tetapi berkali-kali.
Juga pernah sekalinya dapat yang jauh, tetapi setelah itu baliknya tidak
membawa penumpang sama sekali."
Ia tersenyum di tengah klakson jembatan layang menuju Kemayoran.
Saya mengangguk-angguk.
"Yah, artinya lebih baik terima saja yang masuk ke taksi, entah jurusan
dekat ataupun jauh," kata saya. "Karena kita tidak pernah tahu, setelah
itu dapat rezeki dalam bentuk apa lagi."
***
Beberapa hari berikutnya, saya menumpang taksi dari tempat dan dengan tujuan yang sama. Kali ini Bluebird, langganan saya.
"Kok Bapak mau mengantar penumpang dengan tujuan yang dekat seperti
saya?" tanya saya memancing. Taksi sedang melaju ke arah Senen. Saya
mencomot roti sarapan pagi dengan sekotak minuman dingin.
Ia tertawa.
"Jangankan Kramat Raya, Pak," katanya bersemangat, "bahkan saya pernah mengantar orang dari Cempaka Emas ke Ruko Cempaka Emas!"
"O, ya?" sergah saya heran. Jarak itu tak lebih dari selemparan lembing
atau sebidikan panah. "Argo Bapak bahkan mungkin tidak sempat bergerak
dari angka awal lima ribu perak, dong?"
"Yah, waktu itu sedang macet sih. Sempat nyampai enam ribu rupiah."
Saya mengangguk-angguk. Saya berandai-andai. Lima belas persen dari
enam ribu tak lebih dari seribu rupiah. Itu yang dia dapat untuk
mengantar penumpang sedekat itu, buah dari mengantri di pool mungkin
setengah hari.
"Belum lagi ketika kembali ke pool, ternyata sudah penuh," katanya
menerawang. "Harus berputar dulu tiga-empat kali untuk dapat antrian lagi."
"Wah, susah juga, ya Pak?" timpal saya. Sudah dapat yang sangat dekat,
kembali ke pool antri di paling belakang lagi. Itu pun setelah muter
lebih dulu.
"Ya. Bahkan saya pernah, sudah mengantri di
belakang, diserobot teman lagi," katanya enteng, bahkan cenderung riang.
"Saya sih pasrah saja. Tidak lama, teman saya mendapat penumpang dengan
tujuan Patra Jasa. Sebentar kemudian, seorang penumpang mengetok pintu
mobil saya. Cikarang, Pak? Tentu saja saya ambil karena jaraknya jauh,
berlipat-lipat dibandingkan Patra Jasa."
Saya ikut tersenyum mendengar ceritanya. "Itu semua buah dari keikhlasan, Pak."
"Alhamdulillah, saya nggak pernah menolak penumpang sedekat apapun
tujuan mereka. Saya yakin, Allah memberikan rezeki saya dengan cara yang
demikian. Kadang sedikit, kadang banyak. Saya tidak pilih-pilih."
Demikianlah Pak Endang, begitu namanya terpampang di dashboard,
menyimpulkan. Sebuah kesimpulan sederhana yang tidak sesederhana
maknanya.
***
Saya banyak belajar dari kedua orang
itu, Pak Firmansyah dan Pak Endang; sopir-sopir taksi yang sederhana.
Mereka masih "menghargai Tuhan", begitu bahasa mereka. Caranya sungguh
sangat sederhana: mengantarkan penumpang yang naik taksi mereka, meski
dekat sekalipun jaraknya. Menolak penumpang, sama saja dengan menolak
rezeki yang sudah Allah hidangkan di hadapan. Menolak penumpang, sama
halnya tidak menghargai Sang Pembagi Rezeki. Karenanya, tidak ada yang
sepatutnya harus dilakukan, bagi mereka, kecuali ikhlas mengantar.
Terbukti dalam berbagai kesempatan mengantar penumpang yang dekat itu,
ternyata sambung-menyambung dengan penumpang yang turun naik; begitu
satu penumpang turun, ada yang langsung naik. Bahkan tak jarang, banyak
penumpang jarak dekat yang memberikan "uang lebih" berkat kesediaan
mereka mengantar tanpa mengeluh. Jumlahnya sering lebih banyak ketimbang
persentase yang mereka terima dari mengantar penumpang jarak jauh.
Jarak dekat, karenanya tidak lantas identik dengan rezeki cekak.
Sungguh sebuah sikap hidup yang, kata orang Jawa, sumarah. Pasrah,
tetapi bukan layaknya wayang. Dalam bahasa agama, barangkali inilah
pengejawantahan sikap tawakal setelah berazam. Bukan sikap pasrah yang
salah-kaprah; yang sering salah dipahami sebagai "pulung sugih pulung
mlarat". Kalau Tuhan menakdirkan kita kaya, tanpa berusaha pun, kita
akan kaya. Kalau ditakdir miskin, bekerja keras
peras-keringat-banting-tulang sekalipun ibaratnya, tetap akan miskin.
Saya lantas teringat dengan sebuah hadits, bahwa Allah itu tergantung
pada persangkaaan (dzon) hamba pada-Nya. Kedua lelaki di atas, dalam
pandangan saya, telah memberikan persangkaan yang baik pada rencana
Tuhan di balik penumpang yang dekat itu. Ketika sopir yang lain
menyangka "rugi" ketika harus mengantar penumpang yang dekat, keduanya
tidak pernah berprasangka demikian.
Boleh jadi keduanya tidak
hapal dengan ayat Al-Qur'an tentang rezeki yang min haitsu laa yahtasib.
Tetapi saya yakin, keduanya, juga kita, paham bahwa rezeki itu
datangnya bisa tidak disangka-sangka. Tetapi sementara kedua sopir di
atas sudah mempraktekkan pemahaman itu di kehidupan keseharian, kita
sendiri barangkali masih berkutat pada tataran teori.
Jika
Nabi Musa pernah belajar kepada Khidir, kita yang bukan siapa-siapa ini
tak ada salahnya belajar pada orang-orang sederhana seperti kedua sopir
taksi di atas. Benar juga sebuah tulisan yang say a baca terpampang di
sebuah Sekolah Merdeka di tepi Ranu Klakah Lumajang, dan selalu terpatri
dalam ingatan saya hingga kini: jika semua tempat adalah sekolah, maka
setiap orang adalah guru. Dan Pak Firmansyah serta Pak Endang, adalah
guru saya hari ini. Wa Allahu a'lamu bi ash-shawab. Bahtiar HS
NB: Sebuah Taushiyah dari Ust. Yusuf Mansur
Baca Selengkapnya ....
Posted by DIAZ
Saturday, February 2, 2013

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam
pendidikan Syari'at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata,
"Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.
Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!",
jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!"
Murid muridnya pun mengerti dan
mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.
Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata,
"Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah ''Penghapus!'',
jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!".
Dan permainan diulang kembali.
Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat
laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat,
permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.
"Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil
itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui
berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan
sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian
menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan
cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa
dengan hal
itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya.
Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina
tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex
sebelum nikah menjadi
suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain.
Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi
sedikit menerimanya. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. ''Paham
Bu Guru''
"Baik permainan kedua," Ibu Guru melanjutkan. "Bu Guru ada Qur'an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah
karpet. Quran itu "dijaga" sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet.
Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di
tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?"
Murid-muridnya berpikir.
Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.
Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia
ambil Qur'an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi
syarat, tidak memijak karpet.
"Murid-murid, begitulah ummat
Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak
kalian dengan terang-terangan. Karena tentu
kalian akan menolaknya mentah-mentah.
Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka.
Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir,
sehingga kalian tidak sadar.
Jika seseorang ingin membuat rumah yang
kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin
kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.
Sebaliknya, jika ingin
membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah
hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu,
lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…"
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan,
tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian.
Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga
meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari'at
Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan."
"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?" tanya mereka.
Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang
Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi.
Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan
sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak
terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan
mari kita berdo'a dahulu sebelum pulang…"
Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan
tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya. Ini
semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang
dijalankan oleh musuh-musuh Islam.
Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:
"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain
menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu."(QS. At Taubah :32).
Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat
umumnya, khususnya generasi muda Muslim.
Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas
media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.
Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…???
Baca Selengkapnya ....
Orang mengata anda GILA, maka DIAM, dalam diam anda, terkandung segunung sabar, selautan kewarasan pada diri anda.
Orang Mengata anda BODOH, maka DIAM, dalam diam anda, kepandaian
yang mana anda melatih diri untuk memetik sekarung buah kesabaran.
Orang Mengata anda SOK SUCI,maka DIAM, dalam diam anda, terdapat kejernihan fikiran dan kesucian yang mulai bertapak dalam hati anda.
Orang mengata anda CEREWET, maka DIAM, dalam diam anda, terbukti
keberhasilan anda untuk tidak cerewet dan tidak berkata yang tiada
bermanfaat.
Orang mengatakan anda EGOIS,maka DIAM, dalam
diam anda, terselip sebuah pengekangan (menekan) terhadap gejolak jiwa
yang sifatnya berontak dan membantah.
Orang mengata anda
PEMARAH, maka DIAM, dalam diam anda, adalah bukti kesuksesan anda meredam
api kemarahan dan mengendali tali kebuasan sifat anda.
Orang
Mengata anda KURANG AJAR, maka DIAM, dalam diam anda, telah mengajar
diri anda memahami Tata susila kehidupan yang perlu anda amalkan dalam
kehidupan.
Orang mengata anda TIDAK SOPAN, maka DIAM, dalam
diam anda adalah usaha menanamkam benih-benih kesopanan dalam diri yang
akan tumbuh subur dengan siraman air kesabaran.
Belajar untuk DIAM...
Baca Selengkapnya ....