Showing posts with label sedekah. Show all posts
Showing posts with label sedekah. Show all posts

Sugih Tanpa Bondo

Posted by DIAZ Tuesday, June 18, 2013 0 comments
Ada pepatah Jawa berbunyi sugih tanpa bondo. Saya kurang memahami maksud sebenarnya dari pepatah ini. Sedikit yang saya pahami, tetapi mengalaminya. Saya sering mengatakan, jangan mengandalkan uang. Kasihan sekali orang susah, orang miskin kalau apa-apa harus disinggung masalah uang. Nanti mereka semakin susah.

Penyedia terbaik, ya Allah. Pemberi rizki terbaik, ya Allah. Rumah, apa harus beli? Apa harus menyewa? Apa harus menyicil? Banyak sekali orang yang tidak mengeluarkan uang sama sekali, tetapi mempunyai rumah. Seorang kawan membeli satu buah vila. Kesepakatan harga vila tersebut sekitar Rp 700 juta. Dari awal negosiasi harga kawan saya tersebut dengan penunggu vila.

Ketika penunggu vila itu ditanya sama calon pembeli ini, mana yang mempunyai vila dan ia berkeinginan berbicara serta bernegosiasi harga dengan si empunya vila, si penunggu vila selalu menjawab, “Sama saya saja.” Dia menambahkan, cukup berhubungan dengan dirinya. Karena, semua persoalan telah diserahkan kepada dirinya.

Akhirnya, negosiasi berlangsung antara calon pembeli dengan penunggu vila, bukan pemiliknya. Pada mulanya, kawan yang merupakan calon pembeli itu merasa aneh. Jangan-jangan ini tidak benar. Tapi kenyataannya, surat rumah yang asli dipegang oleh penunggu vila. Hingga akhirnya tercapai kesepakatan harga, yaitu sekitar Rp 700 juta.

Kemudian, datanglah pemilik vila untuk melakukan proses tanda tangan jual beli. Itu pun yang datang adalah anak si pemilik karena pemilik vila ternyata sudah meninggal dunia. Si calon pembeli yang dihinggapi rasa penasaran bertanya kepada anak si pemilik vila berapa sebenarnya harga yang disampaikan pemilik vila.

Anak tersebut menjawab, berapa pun harga yang ditetapkan itu terserah beliau. Beliau yang ia maksud adalah penunggu vila. Lalu, bingunglah calon pembeli ini. Ia bertanya kepada diri sendiri, kok bisa almarhum begitu percaya kepada penunggu vilanya. Anak itu tersenyum, lalu menjelaskan, “Sudah ada wasiat dari almarhum bahwa vila ini diserahkan kepada si penunggu. Ini buat dia.”

Rupanya, almarhum pembeli rumah pertama, kemudian disulap menjadi vila. Almarhum membeli vila tersebut sekitar 25 tahun yang lalu. Menurut penunggu vila, 25 tahun lalu pemilik masih muda. Ia mengatakan pemilik cuma datang sekali. Setelah itu, ia hanya mengutus orang untuk merenovasi total bangunan yang telah dibelinya.

Setelah renovasi selesai, vila itu diserahkan kepada si penunggu. Ia mendapatkan amanat untuk menjaga dan mengurus vila tersebut. Ia diizinkan untuk tinggal bersama istri dan anaknya, waktu itu masih satu, di vila. Sejak saat sampai wafatnya, pemilik vila tak pernah datang lagi. Hanya anak almarhum yang akhirnya datang. Tujuannya untuk menyerahkan vila kepada si penunggu. Subhanallah.

Saya kebetulan mendampingi kawan saya itu dalam proses negosiasi awal. Kami bertemu dengan bapak penunggu vila yang berada di sekitar Salabintana. Mungkin bapak penunggu ini mempunyai amalan yang kita semua tidak mengetahuinya. Ia menempati vila seperti rumah sendiri karena memang ia diminta menjaganya, tak boleh keluar dari sana. Bahkan, bangunan itu direnovasi total. Jumlah kamar ditambah, dibangun aula, mushala, taman, dan fasilitas lainnya.

Setelah itu, pemilik memberikannya ke bapak penunggu vila. Termasuk, surat-surat rumahnya. Hingga kemudian vila tersebut dijual, uangnya tetap menjadi haknya. Dari cerita ini, bagi siapa yang percaya setiap saat harus butuh uang, ia sungguh merugi. Bagi yang percaya bahwa Allah Mahakuasa, sungguh beruntung dia ini. Wallaahu a’lam.

Apa amalan si bapak penunggu ini kala mudanya dulu? Atau, amalan orang tuanya. Dengar-dengar, dulu waktu ia mau membenahi rumahnya sendiri yang akhirnya berubah menjadi vila, uangnya disedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Sampai akhirnya, rumahnya dijual, namun tetap saja akhirnya dimilikinya. Masya Allah.

Oleh Ustaz Yusuf Mansur

Baca Selengkapnya ....

Jadikan Hati Lebih Peka (Versi 2)

Posted by DIAZ Thursday, May 2, 2013 0 comments
Orang-orang tua yang sudah tidak mampu melakukan banyak hal dan miskin, sudah selayaknya mereka menerima yang menjadi haknya yakni Zakat. Cegahlah orang-orang yang demikian dari meminta-minta dengan Anda berikan zakat langsung kepada mereka, atau bersedekahlah. Anda yang memberi jangan tunggu mereka meminta.

Semoga Allah membahkan rizki dan nikmat bagi Anda yang selalu menafkahkan hartanya bagi orang-orang miskin di jalan Allah. Aamiin..

TOLONG SHARE JANGAN DIABAIKAN..!!!
Setidaknya jika Anda tidak mampu untuk memberi, Ada teman Anda yang melihat ini lalu memberi, kebaikan juga untuk Anda.

Baca Selengkapnya ....

Jadikan Hati Lebih Peka (Versi 1)

Posted by DIAZ 0 comments
Mereka tidak butuh sedekah dari kita, tapi mereka hanya butuh dagangan mereka dibeli. Dan memang itu salah satu yang membuat mereka bahagia. Sobat, jika anda bertemu pedagang asongan seperti ini bantulah mereka dengan membeli dagangan mereka meskipun kita tidak terlalu membutuhkan. Yakinlah, mereka berusaha untuk tidak menjadi peminta dan pengemis tapi mereka berusaha untuk keluarga mereka. Maka, tak ada salahnya kan kita membantu mereka?
***
"Lebih baik seseorang bekerja dengan mengumpulkan seikat kayu bakar di punggungnya dibanding dengan seseorang yang meminta-minta (mengemis) lantas ada yang memberi atau enggan memberi sesuatu padanya." (HR. Bukhari no. 2074)


Tolong Share ya Sob, semoga itu menjadi amal ibadah Anda...
Aamiin :-)


Baca Selengkapnya ....

Kisah Dua Tukang Sol (Bag.4)

Posted by DIAZ Monday, February 18, 2013 0 comments

Setelah gagal membuka jasa sol di sebuah mall mewah, Mang Udin meneruskan profesinya sebagai tukang sol keliling. Setiap hari selalu semangat untuk berkeliling menawarkan jasanya. Senyum dari istri tercinta dan lambaian sayang dari kedua anaknya selalu memberikan energi lebih bagi mang Udin setiap melakukan aktivitasnya setiap hari.
Saat melawati sebuah jalan, ada seorang pemuda yang memanggilnya. Pemuda tersebut memegang sebuah sepatu yang pastinya akan diperbaiki.
“Ada yang bisa dibantu pak?” tanya mang Udin dengan ramah.
“Iya mang, sol sepatu saya copot, bisa diperbaiki? Ini sepatu kesayangan saya.” kata si pemuda itu.
“Baik pak, boleh saya lihat?”, kata mang Udin sambil menyodorkan tangannya.
Sepatu itu pun diberikan oleh si pemuda kepada mang Udin. Mang Udin kemudian memeriksa sepatu itu.
“Ini bisa saya lem pak. Tapi kalau ingin lebih kuat, bisa saya tambahkan tahitan.” kata mang Udin
“Nanti jahitannya kelihatan donk.” kata si pemuda.
“Tentu saja, tapi jangan khawatir, jahitan yang terlihat tidak akan mengganggu tampilannya untuk model sepatu ini. Mamang lihat, banyak sepatu model kaya gini dengan jahitan terlihat jelas. Jahitan itu dibuat dari pabriknya.” kata mang Udin.
“Baiklah, tapi jahitannya yang rapi yah … ” kata si pemuda agak khawatir.
“Insya Allah, jahitan mamang memang rapi.” kata mang Udin sambil langsung memperbaiki sepatu itu.
Setelah selesai, si Pemuda nampak puas. Jahitannya rapi dan sepatu itu justru terlihat lebih bagus.
“Wah bagus sekali mang.” kata si pemuda. “Berapa?”
“Seperti biasa saja pak.” kata mang Udin.
Setelah sepakat harga, mang Udin menerima bayaran plus tip dari si pemuda tersebut.
“Jahitan mamang bagus sekali, mengapa tidak membuka service sepatu profesional saja? Seperti di pertokoan atau di mall?” tanya si pemuda.
“Tapi, tidak semudah itu pak.” kata mang Udin. “Saya sudah mencobanya, tetapi saya gagal. Katanya saya belum siap untuk mengelola service profesional pak.”
“Memangnya kenapa mang?” tanya si pemuda menyelidiki.
“Katanya, mamang tidak ngerti manajemen dan keuangan. Maklum saja pak, saya bukan orang sekolahan.” kata mang Udin menjelaskan.
“Mamang dulu waktu masih kecil bisa memperbaiki sepatu tidak?” tanya si pemuda.
“Ya tidak pak, mamang bisa memperbaiki sepatu karena terpaksa. Karena tidak ada pekerjaan, mamang belajar ke teman mamang. Terus mamang jadi tukang sol sampai sekarang.”
“Tuh kan, mamang asalnya tidak bisa memperbaiki sepatu, sekarang jadi sangat ahli.” kata si pemuda.
“Terima kasih pak atas pujiannya.” jawab mang Udin sambil tersenyum.
“Mamang belum mengerti maksud saya.” kata si pemuda.
“Memang maksud bapak apa?” tanya mang Udin bingung.
“Dulu mamang tidak bisa memperbaiki sepatu, sekarang jadi bisa. Artinya, meski pun mamang sekarang tidak bisa manajemen dan keuangan, nanti mamang akan bisa jika mau belajar.” kata si pemuda
“Tapi tidak semudah belajar sol. Manajemen dan keuangan kan susah, sementara mamang tidak sekolah tinggi.” jawab mang Udin.
“Betul mang, memang tidak mudah. Untuk maju kita harus melalui berbagai kesulitan, termasuk sulitnya belajar.” jelas si pemuda. “Lagi pula, mamang tidak perlu mahir bener dalam manajemen dan keuangan. Pelajari saja yang praktis dan aplikatif untuk pekerjaan mamang. Tidak perlu harus menjadi sarjana manajemen dan keuangan.”
“Oh gitu… Dimana saya bisa belajar?” tanya mang Udin.
“Sekarang banyak kursus mang. Mamang bisa ikut kursus manajemen dan keuangan UKM. Tidak sulit koq.” jelas si pemuda.
“Mahal tidak pak?” tanya mang Udin.
“Mahal tidaknya relatif mang.”
“Penghasilan tukang sol itu tidak besar pak, mana cukup untuk ikut kursus.” jelas Mang Udin.
“Sekali lagi, memang tidak mudah. Jika kita ingin maju, kita harus mau berkorban, salah satunya investasi untuk kepala kita. Itu adalah pilihan, apakah mamang akan begini terus atau ingin maju. Jika betah dengan kehidupan seperti ini, silahkan lanjutkan tanpa harus mengorbankan uang dan waktu untuk memperbaiki diri.” kata si pemuda.
“Betul sekali pak.” kata mang Udin sambil manggut-manggut.
“Saya dapat 3 keuntungan hari ini, yang harus saya syukuri.” kata mang Udin.
“Apa itu mang?” tanya si pemuda penasaran.
“Pertama mamang dapat pekerjaan perbaikan sepatu dari bapak. Kedua saya dapat tip dari bapak. Dan, ketiga saya dapat nasihat dari bapak yang luar biasa. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.” kata mang Udin.
“Alhamdulillah. Mamang hebat. Pandai sekali menyukuri setiap nikmat yang mamang dapatkan. Saya jadi belajar dari mamang.” kata si pemuda.
“Itu kan sudah kewajiban kita sebagai manusia, berterima kasih kepada Allah yang memberi banyak nikmat.” kata mang Udin.
“Saya yakin, Allah akan membukakan pintu rezeki buat mamang lebih lebar lagi, karena mamang pandai bersyukur.” tanya si pemuda itu.
“Insya Allah, saya yakin itu. Selama ini saya berdo’a semoga Allah menunjuki saya jalan untuk hidup lebih baik dan saya dipertemukan dengan bapak disini. Penjelasan bapak seolah ada tambahan cahaya yang menerangi jalan saya. Terima kasih pak.” kata mang Udin dengan wajah serius.
“Luar bisa. Saya sering berbicara dan memberikan saran ke banyak orang. Kebanyakan mereka malah mengeluh dan beralasan. Tapi tidak dengan mamang. Saya lihat ada potensi sukses pada di mamang.” kata pemuda itu.
“Benarkah?” kata mang Udin dengan antusias.
“Ya tentu saja. Mamang memiliki pikiran positif. Mindset mamang sudah bagus, mindset seorang yang sukses. Lanjutkan, tidak lama lagi hidup mamang akan lebih baik lagi. Saya optimis.” kata si pemuda sambil pamit dan masuk rumahnya.
Mang Udin, tambah optimis dan memiliki kepercayaan diri semakin besar untuk meraih hidup yang lebih baik lagi. Dia pun yakin, pertolongan Allah akan terus bersamanya selama dia mau menerimanya dan bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.
****
Bersambung …

Baca Selengkapnya ....

Kisah 2 Tukang Sol (Bag.3)

Posted by DIAZ Tuesday, February 12, 2013 0 comments

Setelah bertemu dengan Bang Soleh yang sudah sukses memiliki jasa service sepatu premium di salah satu mall, mang Udin menjadi lebih semangat dalam bekerja. Dia jelas terinspirasi oleh bang Soleh. Dalam hatinya dia berharap dan yakin harapannya akan tercapai. Dia selalu berdo’a setiap hari, bahkan bangun malam untuk shalat tahujud dan memanjatkan do’a agar kehidupannya lebih baik.
Selain itu, dia meminta istrinya untuk ikut mendo’akannya. Tidak lupa juga, dengan sengaja silaturahim ke rumah orang tua dan mertuanya untuk meminta dorongan do’a. Dan dia setiap hari terus berusaha, menjajakan jasanya dengan pikulannya berkeliling . Rasa optimis ini ternyata menjadikan penghasilan jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Penghasilannya sudah lumayan dan tidak pernah lagi api di dapurnya padam. Tidak pernah lagi anaknya jalan kaki karena tidak punya ongkos ke sekolah. Bahkan mang Udin dan istrinya sudah mulai menabung untuk masa depan kedua anaknya.
Perbaikan ekonomi mang Udin tidak menjadikannya malas. Dia malah makin bersemangat dan terus bersyukur serta masih tetap berharap bahwa usahanya akan lebih baik.
“Yah, saya bersyukur usaha ayah sudah lebih baik. Hanya saja saya bertanya-tanya, kapan kita akan seperti bang Soleh yah?” kata istrinya sambil membereskan bekas makan malam mereka.
“Tenang saja bu, insya Allah suatu saat akan datang saatnya. Seperti kondisi kita saat ini, bukankah ini harapan kita dimasa lalu? Sekarang sudah menjadi kenyataan.” jawab mang Udin, sambil membantu istrinya mengangkat tumpukan piring kotor ke dapur.
“Iya, ibu yakin. Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan ayah supaya lebih baik seperti bang Soleh?” kata istrinya sambil menatap suaminya.
“Iya juga, selama ini ayah berdo’a dan tetap keliling. Tapi, bagaimana yah caranya supaya bisa ningkatin usaha ayah?” kata mang Udin sambil mikir.
“Ya udah, tidak usah dipikirkan. Ibu sudah sangat bersyukur. Bisa makan setiap hari, bisa membekali anakanak ke sekolah, bisa menabung, dan membeli pakaian. Ini sudah lebih dari cukup. Syukuri saja yang ada, tidak usah terlalu muluk-muluk.” kata istrinya sambil melangkah ke dapur mau mencuci piring.
Mang Udin memikirkan apa yang dikatakan istrinya. Dia bingung, bagaimana caranya untuk meningkatkan usahanya, meski dia optimis.
“Apa yah yang harus saya lakukan?” pikir dia.
“Apakah sudah cukup mensyukuri yang ada dan tidak usaha muluk-muluk ingin lebih baik lagi?” pikirannya makin dalam, memikirkan apa yang dikatakan istrinya.
Namun dia teringat apa yang dikatakan bang Soleh, bahwa dia pada awalnya juga bingung. Kemudian berubah menjadi bisa.
“Oh iya, mungkin sekarang masih bingung, tapi nanti saya akan menemukan jawabannya. Saya tidak akan menyerah untuk hidup yang lebih baik.” itu yang dikatakannya dalam pikirannya, tanpa terasa dia sambil mengepalkan tangannya saking semangat.
Ternyata istrinya melihat, sambil tersenyum bertanya:
“Ngapain yah, koq kayak mau ninju gitu?”
“Ayah tidak akan menyerah!” kata mang Udin sambil menoleh istrinya.
“Lho, setahu ibu, ayah tidak pernah menyerah dari dulu. Itu yang membuat ibu dan anak-anak bangga ke ayah.” jawab istrinya sambil tersenyum.
“Maksud ayah, saya tidak akan menyerah untuk meraih apa yang ayah inginkan.” jawab mang Udin semangat.
“Oooo.” kata istrinya. “Tapi bagaimana caranya yah?” dilanjutkan dengan pertanyaan.
“Ayah belum tau sekarang, tapi akan mencari tau. ” jawab mang Udin tetap semangat.
“Waw… semangat ni yee… ” kata istrinya sambil tertawa.
Keesokan harinya, seperti biasa mang Udin keliling untuk menjajakan jasanya memperbaiki sepatu. Sepulang keliling, dia melihat sebuah sepeda motor di depan rumahnya. Dia bertanya-tanya, itu sepeda motor siapa.
“Assalamu’alaikum…” katanya sambil membuka pintu.
“Wa’alaikum salam”, jawab istrinya sambil menghampiri mang Udin. Kemudian istri mang Udin mengambil gelas dan mengisinya dengan air teh hangat.
“Ini minumnya yah.” kata istri Mang udin sambil menyodorkan gelas.
“Terima kasih bu. Itu motor siapa?” tanya mang Udin sambil melirik ke luar.
“Oh iya, itu motor bang Soleh.” jawab istrinya.
“Mana bang Soleh-nya?” tanya mang Udin semangat.
“Tadi kan hanya ibu di rumah, jadi bang Soleh nunggu di Masjid sebelah katanya.” jelas istri mang Udin yang memang tidak pernah menerima tamu bukan muhrim saat suaminya tidak ada di rumah.
“Oh, kalau gitu ayah mau susul ke Masjid sekalian shalat Maghrib.” jelas mang Udin yang langsung menuju Masjid di dekatnya.
“Assalamu’alaikum bang Soleh.” kata mang Udin begitu melihat bang Soleh yang sedang duduk di teras masjid. Tentu saja bang Soleh menjawab salam dan menyambutnya. Mereka pun berbicang-bincang saling menanyakan kondisi dan keluarga. Mereka terlihat begitu senang dan cerita.
Setelah shalat maghrib, mereka pun langsung menuju rumah. Sesampainya di rumah, istrinya sudah menyiapkan makan malam.
“Ayo bang, makan dulu.” kata istri mang Udin.
“Nggak usah, tidak akan lama koq. Saya hanya ingin mengundang mang Udin ke bengkel sepatu saya di Mall. Kebetulan teman saya mau datang dan ingin ngobrol dengan mang Udin.” kata bang Soleh.
“Teman yang memodali abang maksudnya?” tanya mang Udin penasaran sambil penuh harap.
“Iya. Tadi pagi ngobrol, katanya ingin buka bengkel sepatu baru di mall lain. Saya menyarankan mang Udin yang mengelolanya.” jelas bang Soleh.
“Yang bener?” tanya mang Udin dengan mata berbinar.
“Iya… ” jawab bang Soleh sambil tersenyum. “Besok ditunggu sekitar jam 10 pagi.”
“Boleh-boleh, insya Allah saya datang.” kata mang Udin dengan semangat.
Setelah mereka makan malam, bang Soleh pun pulang. Mang Udin langsung mengucapkan syukur karena mendapatkan peluang yang dia impikan selama ini.
“Betul kan bu? Kita jangan menyerah.” kata mang Udin sambil menatap istrinya.
“Coba kalau kita menyerah, jangan-jangan peluang ini tidak datang.” lanjut mang Udin memotong istrinya yang akan bicara.
“Iya yah, alhamdulillah.” jawab istrinya sambil tersenyum tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Keesokannya, mang Udin sengaja tidak keliling, dia langsung ke Mall untuk menemui teman bang Soleh. Sekitar 1 jam mang Udin, bang Soleh, dan teman bang Soleh berbicara. Kemudian mang Udin pun pulang dengan wajah yang kurang ceria. Sesampainya di rumah, dia disambut istrinya.
“Bagaimana yah?” kata istrinya dengan semangat.
“Tidak jadi bu.” jawab mang Udin.
“Kenapa yah?” tanya istrinya.
“Katanya ayah belum siap untuk mengelola bengkel sepatu profesional. Dia minta ayah belajar dulu mengelola usaha.” jelas mang Udin.
“Ya udah lah, tidak apa-apa. Kita lanjutkan saja yang sudah berjalan dengan baik.” jawab istrinya dengan raut kecewa, namun berusaha menghibur diri dan suaminya.
“Saya tidak akan menyerah bu. Ayah memang kecewa, tetapi pertemuan tadi memberikan hikmah yang luar biasa bagi ayah.Ternyata selama ini, ayah tidak pernah menyiapkan diri, tidak pernah belajar agar siap meningkatkan usaha. Jadi, saat peluang itu datang, ayah tidak siap.” jelas mang Udin masih menyimpan nada semangat.
“Kita sudah meminta kepada Allah, namun saat Allah memberikannya, kita sendiri yang tidak siap.” lanjut mang Udin.
“Oh gitu… Iya juga. Tapi yang sudah, sudahlah. Kesempatan tidak datang dua kali.” kata istrinya sambil mengambil air minum untuk mang Udin.
“Memang betul bu, kesempatan tidak datang dua kali, tetapi mungkin puluhan, ratusan, bahkan jutaan. Saya tidak akan menyerah, ayah akan mempersiapkan diri untuk menyambut peluang-peluang lainnya.” jelas mang Udin makin semangat.
Istrinya tersenyum sambil geleng-geleng.
“Kenapa bu? Ngejek ayah yah?” tanya mang Udin menatap istrinya penasaran.
“Bukan begitu. Ibu jadi tambah kagum ke ayah, dan senang saat ayah mengatakan ‘saya tidak akan menyerah’. Bisa katakan sekali lagi yah?” pinta istrinya sambil menatap mang Udin, tidak lupa sambil tersenyum.
Mang Udin pun langsung menyambut permintaan istrinya sambil mengepalkan tangan dan tersenyum:
“Insya Allah saya bisa, saya tidak akan menyerah, sebab ada Allah yang membantu saya.”
****
Bersambung ke bagian 4.

Baca Selengkapnya ....

Kisah 2 Tukang Sol (Bag.2)

Posted by DIAZ Sunday, February 10, 2013 0 comments

(Kisah berhikmah ini adalah kelanjutan dari Kisah Dua Tukang Sol)

Setelah pertemuan itu, bang Soleh dan mang Udin tidak lagi bertemu. Entah kenapa, ada kerinduan dari mang Udin untuk bertemu dengan bang Soleh. Mang Udin mencoba ke tempat dimana dia bertemu, masjid dan tempat makan dimana dia ditraktir. Namun Allah menakdirkan mereka tidak bertemu.
Mang Udin mencoba bertanya kepada sesama rekan tukang sol lainnya. Luar biasa, banyak diantara tukang sol yang mengenal bang Soleh, namun mereka juga sama, mengaku sudah lama tidak bertemu dengan bang Soleh. Mang Udin juga sering berdo’a untuk dipertemukan dengan bang Soleh untuk berterima kasih.
“Apakah bang Soleh sakit?” tanya mang Udin dalam hatinya. “Ah, tidak boleh berburuk sangka, mudah-mudahan bang Soleh baik-baik saja, mungkin dia menjajaki tempat yang lain.
Lalu, bagaimana dengan keadaan mang Udin sendiri? Setelah mendapatkan pencerahan dari bang Soleh, kehidupan mang Udin sudah jauh membaik. Dengan diawali basmallah, dia selalu mengawali langkahnya menjemput rezeki. Diiringi senyum dari sang Istri dan pelukan dari kedua anaknya, mang Udin selalu bersemangat memikul peralatan dan bahan sol yang lumayan berat.
Meski tidak setiap hari mendapatkan penghasilan bagus, namun secara total sudah sangat cukup menjaga dapurnya ngebul setiap hari. Kadang dia hanya melakukan service satu kali dalam sehari, tetapi uang yang didapat melebih 5 kali service karena kemurahan pengguna jasanya. Banyak sekali rezeki yang tidak diduga-duga yang dia alami.
Dia selalu mensyukuri apa yang dia dapat setiap harinya. Bahkan saat pulang tidak membawa uang pun tidak menjadikan dia mengeluh. Hidupnya lebih tenang dan optimis. Jika hari ini tidak dapat, dia yakin besok lusa akan dapat. Dia tidak khawatir lagi, sebab dia yakin Allah sudah menyiapkan rezeki untuk istri dan kedua anaknya.
Suatu hari, sepulang dari keliling menjajakan jasanya, dia disambut dengan tangisan anak bungsunya.
“Kenapa sayang?” tanya mang Udin sambil membelai kepala anaknya dan melirik ke istrinya.
“Itu yah… Cecep ingin jalan-jalan ke Mall seperti teman-temannya.” jawab istrinya sambil tersenyum. “Kayak orang kaya saja.”
Mang Udin tersenyum. “Mau ngapain sich ke Mall?”
“Mau jalan-jalan saja.” kata Cecep (anaknya).
“Di Mall itu banyak yang dagang, nanti Cecep mau, ayahkan tidak punya banyak uang sekarang.” jelas mang Udin.
“Cecep tidak mau beli apa-apa, hanya ingin jalan-jalan saja sama ayah dan mamah, juga teteh.” jelas Cecep.
“Bener?” tanya mang Udin.
“Bener, Cecep janji.” kata si Cecep
“Kata mamah gimana? Boleh tidak?” tanya mang Udin
“Kata mamah, terserah ayah.” kata Cecep sambil melihat ibunya dan dijawab oleh ibunya dengan senyuman.
“Ya udah, besok kan hari Minggu, kita jalan-jalan saja ke Mall.” kata mang Udin yang disambut senyum gembira anaknya.
“Teteh… teteh… besok kita jalan-jalan ke Mall.” kata Cecep teriak-teriak sambil menghampiri kakak perempuannya.
“Emang ayah nggak keliling besok?” tanya istrinya sambil mempersiapkan makan.
“Nggak apa-apa, sesekali istirahat untuk penyegaran. Biar anak-anak senang.” jawab mang Udin sambil duduk di tikar, siap-siap untuk makan.
“Iya juga, ayah selalu keliling, tidak pernah libur.” jawab istrinya sambil duduk disamping mang Udin.
***
Keesokan harinya, mereka pun berangkat ke Mall naik angkot. Cecep terlihat begitu senangnya.
“Cecep… main ke Mall jangan jadi kebiasaan, sekali-kali saja yah.” jelas mang Udin.
“Kenapa yah?” tanya Cecep.
“Ada banyak kegiatan yang lebih bagus dibandingkan jalan-jalan ke Mall.” jelas mang Udin.
“Iya dech…” kata Cecep.
Sesampainya di Mall, mata mang Udin terpaku melihat sebuah tulisan yang berbunyi
Service Sepatu Bang Soleh
“Jangan-jangan …” pikir mang Udin.
Dia segera menghampiri toko yang ada tulisan itu diatasnya. Disana memang tempat service sepatu, ya sepatu-sepatu yang cukup mahal harganya. Dia melihat semua orang yang ada di toko tersebut, tentu saja mencari-cari, apakah ada bang Soleh disana.
“Ada yang bisa dibantu pak?” tanya salah seorang karyawati toko itu.
“Nggak… Saya cuma ingin ketemu bang Soleh.” jawab mang Udin ragu-ragu, apakah benar bang Soleh itu yang ada disini.
“Oh, sebentar ya pak, ini dengan bapak siapa?” jawab karyawati berjilbab itu dengan ramah.
“Saya Udin.” jawab mang Udin.
“Baik pak, sebentar.” jawab karyawati itu dan masuk ke sebuah ruangan.
Mang Udin seperti tidak percaya, orang yang keluar dari ruangan itu benar-benar bang Soleh yang sudah memberikan pencerahan baginya. Mang Udin hanya menatap bang Soleh.
“Alhamdulillah, kita dipertemukan lagi, apa kabar Mang Udin?” tanya bang Soleh sambil membuka tanggannya.
Akhirnya mereka berpelukan, seperti dua saudara yang telah lama tidak bertemu.
“Wah, bang Soleh sudah sukses nich. Pasti besar modalnya buka toko disini. Bagaimana bisa?” tanya mang Udin penuh dengan kekaguman.
“Ini keluarga mang Udin?” tanya bang Soleh sambil melihat istri mang Udin dan kedua anaknya, seolah mengabaikan pertanyaan mang Udin.
“Iya, ini Cecep ingin jalan-jalan.” jawab mang Udin sambil tersenyum.
“Bagus sekali mang Udin, memasukan kebahagiaan untuk istri dan anak adalah perbuatan mulia. Jangan dilupakan itu.” katang bang Soleh. “Bagaimana kalau kita makan yuk disana?” kata bang Soleh sambil menunjuk sebuah restoran.
“Ah nggak usah… ” jawab mang Udin.
“Jangan gitu, saya sudah lama tidak traktir mang Udin, sekarang sekalian dengan keluarganya.” jelas bang Soleh sambil berjalan menuju sebuah restoran diikuti oleh mang Udin dan keluarganya.
“Jadi merepotkan nich…” kata mang Udin.
Setelah mereka duduk, perbincangan pun dilanjutkan.
“Bagaimana bang Soleh bisa buka usaha disini?” tanya mang Udin.
“Semua Allah yang mengatur. Seperti pertemuan kita dulu. Saya juga dipertemukan dengan teman SMP saya yang sudah menjadi pengusaha dan dia menawarkan bantuan modal untuk buka usaha disini.” jelas bang Soleh.
“Wah … kalau rezeki tidak akan lari kemana yah bang?” kata mang Udin kagum.
“Itu adalah jawaban dari do’a kita, terutama do’a dari ibu, istri, dan anak-anak saya. Saat kita berdo’a, Allah mengabulkan do’a kita dengan memberikan berbagai petunjuk. Tinggal bagaimana kita, mau menjemputnya atau tidak?” jelas bang Soleh.
“Saya sudah sangat bersyukur dengan apa yang saya dapatkan saat ini. Kalau saya ingin dapat lebih seperti abang, apa itu tidak salah? Apakah saya tidak bersyukur?” tanya mang Udin.
“Tentu saja tidak, selama kita berterima kasih atas apa yang Allah berikan kepada kita, kemudian memanfaatkan nikmat itu untuk kebaikan, itu adalah syukur kita. Jika kita ingin lebih baik, itu tidak ada salahnya. Allah menyuruh kita untuk tetap berusaha menjadi lebih baik.” jelas bang Soleh.
“Bagaimana saya bisa maju seperti abang?” tanya mang Udin.
“Mintalah kepada Allah, kemudian jemput rezeki itu dengan segera, tidak boleh menunda-nunda.” jelas bang Soleh.
“Apakah saya bisa?” tanya mang Udin.
“Bagaimana mang Udin menemukan saya disini?” tanya bang Soleh
“Saya sering berdo’a untuk diketemukan dengan abang, saya ingin berterima kasih.” jawab mang Udin.
“Lewat anak mang Udin, Allah menjawab do’a mang Udin untuk bertemu dengan saya.” kata bang Soleh sambil tersenyum.
“Iya juga …” kata mang Udin
“Awalnya saya juga bingung, bagaimana menjalankan bisnis dengan profesional. Tapi lama kelamaan bisa juga. Tenang saja, mungkin sekarang kita masih bingung apa yang harus dilakukan. Tapi, tetaplah optimis, Allah akan menunjukkan jalan kepada kita. Teruslah berdo’a. Jangan berhenti karena kita tidak bisa, jangan berhenti karena kita tidak tahu caranya. Allah akan membimbing kita, percayalah.” jelas bang Soleh.
“Saya jadi optimis, hidup saya akan lebih baik lagi.” kata mang Udin dengan mata berbinar, penuh dengan optimisme.
“Insya Allah… kita pasti bisa.” kata bang Soleh.
Mereka pun melanjutkan makan siang mereka diselingi berbagai obrolan kecil yang mengundang senyum dan tawa.
***
Insya Allah kisah berhikmah ini akan bersambung. Pada kisah berhikmah yang akan datang, kita akan lihat bagaimana perjuangan mang Udin membuka usaha baru.

Baca Selengkapnya ....

Kisah 2 Tukang Sol (Bag.1)

Posted by DIAZ Saturday, February 9, 2013 2 comments
Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.
Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.
Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.
“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.
“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.
“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”
“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.
“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.
“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.
“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.
Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.
“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”
Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.
Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,
“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”
Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,
“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”
“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.
“Abang yakin?”
“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.
“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.
“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.
Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.
“Apa kabar mang Udin?”
“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.
Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,
“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”
“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.
“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,
“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”
“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.
Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.
“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.
Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.
“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.
“Tidak.”
“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”
Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.
“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”
Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimis bahwa hidup akan lebih baik.

Baca Selengkapnya ....

Kisah Dua Supir Taksi

Posted by DIAZ Sunday, February 3, 2013 1 comments
Saya mendekati taksi biru itu. Sebenarnya saya ragu, karena Kramat Raya bukan jarak yang jauh dari Cempaka Emas, tempat saya berdiri sekarang ini. Paling 10-15 menit sudah sampai. Jarak sedekat itu tentu tidak sebanding dengan lamanya sopir taksi tersebut mangkal di tempat ini. Oleh karenanya, saya sudah bersiap untuk tidak kecewa. Saya buka pintu belakang taksi itu. "Kramat Raya, Pak?" tanya saya setengah ragu. "Mari, Pak!" kata sopir taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun. Tentu saja saya gembira, karena tidak menyangka lelaki itu bakal mau mengantar.

Saya segera naik ke jok belakang, menutup pintu. Taksi pun melaju. Sebentar kemudian berputar 180 derajat di perempatan Cempaka Putih. Sekarang melaju ke arah Senen.

"Kok Bapak mau ke Kramat? Kan jaraknya dekat aja, Pak?" tanya saya
memancing.

"Kita kan tidak pernah tahu ada apa di balik yang dekat itu, Pak," katanya sejenak kemudian. Senyumnya saya lihat di spion atas kepalanya. "Jika penumpang yang jarak dekat tidak diambil, rasanya seperti tidak menghargai Tuhan yang membagi rezeki buat kita."

Berkata bijak ternyata bukan hanya monopoli kaum filosof. Tetapi juga bisa keluar dari mulut Firmansyah, begitu nama yang terpampang di dashboard, seorang sopir taksi bersahaja yang saya temui pagi ini.

Maka meluncurlah cerita "filosof" yang sopir taksi itu.

"Saya banyak mengalami, kadang memang rasanya gimana gitu ketika sudah lama ngantri, ternyata dapat penumpang yang dekat," katanya sembari menarik napas perlahan. "Dapat lagi, dekat lagi. Dapat lagi, dekat lagi."

Saya cuma tersenyum. Tentu saja saya bisa merasakan "duka" itu. Seperti kita mengharapkan durian runtuh, tetapi apa daya jika kenari yang ternyata melayang jatuh.

"Tetapi, tak jarang," imbuh lelaki itu, "saya dapat yang dekat-dekat, tetapi berkali-kali. Juga pernah sekalinya dapat yang jauh, tetapi setelah itu baliknya tidak membawa penumpang sama sekali."

Ia tersenyum di tengah klakson jembatan layang menuju Kemayoran.

Saya mengangguk-angguk.

"Yah, artinya lebih baik terima saja yang masuk ke taksi, entah jurusan dekat ataupun jauh," kata saya. "Karena kita tidak pernah tahu, setelah itu dapat rezeki dalam bentuk apa lagi."

***

Beberapa hari berikutnya, saya menumpang taksi dari tempat dan dengan tujuan yang sama. Kali ini Bluebird, langganan saya.

"Kok Bapak mau mengantar penumpang dengan tujuan yang dekat seperti saya?" tanya saya memancing. Taksi sedang melaju ke arah Senen. Saya mencomot roti sarapan pagi dengan sekotak minuman dingin.

Ia tertawa.

"Jangankan Kramat Raya, Pak," katanya bersemangat, "bahkan saya pernah mengantar orang dari Cempaka Emas ke Ruko Cempaka Emas!"

"O, ya?" sergah saya heran. Jarak itu tak lebih dari selemparan lembing atau sebidikan panah. "Argo Bapak bahkan mungkin tidak sempat bergerak dari angka awal lima ribu perak, dong?"

"Yah, waktu itu sedang macet sih. Sempat nyampai enam ribu rupiah."

Saya mengangguk-angguk. Saya berandai-andai. Lima belas persen dari enam ribu tak lebih dari seribu rupiah. Itu yang dia dapat untuk mengantar penumpang sedekat itu, buah dari mengantri di pool mungkin setengah hari.

"Belum lagi ketika kembali ke pool, ternyata sudah penuh," katanya
menerawang. "Harus berputar dulu tiga-empat kali untuk dapat antrian lagi."

"Wah, susah juga, ya Pak?" timpal saya. Sudah dapat yang sangat dekat, kembali ke pool antri di paling belakang lagi. Itu pun setelah muter lebih dulu.

"Ya. Bahkan saya pernah, sudah mengantri di belakang, diserobot teman lagi," katanya enteng, bahkan cenderung riang. "Saya sih pasrah saja. Tidak lama, teman saya mendapat penumpang dengan tujuan Patra Jasa. Sebentar kemudian, seorang penumpang mengetok pintu mobil saya. Cikarang, Pak? Tentu saja saya ambil karena jaraknya jauh, berlipat-lipat dibandingkan Patra Jasa."

Saya ikut tersenyum mendengar ceritanya. "Itu semua buah dari keikhlasan, Pak."

"Alhamdulillah, saya nggak pernah menolak penumpang sedekat apapun tujuan mereka. Saya yakin, Allah memberikan rezeki saya dengan cara yang demikian. Kadang sedikit, kadang banyak. Saya tidak pilih-pilih."

Demikianlah Pak Endang, begitu namanya terpampang di dashboard, menyimpulkan. Sebuah kesimpulan sederhana yang tidak sesederhana maknanya.

***

Saya banyak belajar dari kedua orang itu, Pak Firmansyah dan Pak Endang; sopir-sopir taksi yang sederhana. Mereka masih "menghargai Tuhan", begitu bahasa mereka. Caranya sungguh sangat sederhana: mengantarkan penumpang yang naik taksi mereka, meski dekat sekalipun jaraknya. Menolak penumpang, sama saja dengan menolak rezeki yang sudah Allah hidangkan di hadapan. Menolak penumpang, sama halnya tidak menghargai Sang Pembagi Rezeki. Karenanya, tidak ada yang sepatutnya harus dilakukan, bagi mereka, kecuali ikhlas mengantar.

Terbukti dalam berbagai kesempatan mengantar penumpang yang dekat itu, ternyata sambung-menyambung dengan penumpang yang turun naik; begitu satu penumpang turun, ada yang langsung naik. Bahkan tak jarang, banyak penumpang jarak dekat yang memberikan "uang lebih" berkat kesediaan mereka mengantar tanpa mengeluh. Jumlahnya sering lebih banyak ketimbang persentase yang mereka terima dari mengantar penumpang jarak jauh. Jarak dekat, karenanya tidak lantas identik dengan rezeki cekak.

Sungguh sebuah sikap hidup yang, kata orang Jawa, sumarah. Pasrah, tetapi bukan layaknya wayang. Dalam bahasa agama, barangkali inilah pengejawantahan sikap tawakal setelah berazam. Bukan sikap pasrah yang salah-kaprah; yang sering salah dipahami sebagai "pulung sugih pulung mlarat". Kalau Tuhan menakdirkan kita kaya, tanpa berusaha pun, kita akan kaya. Kalau ditakdir miskin, bekerja keras peras-keringat-banting-tulang sekalipun ibaratnya, tetap akan miskin.

Saya lantas teringat dengan sebuah hadits, bahwa Allah itu tergantung pada persangkaaan (dzon) hamba pada-Nya. Kedua lelaki di atas, dalam pandangan saya, telah memberikan persangkaan yang baik pada rencana Tuhan di balik penumpang yang dekat itu. Ketika sopir yang lain menyangka "rugi" ketika harus mengantar penumpang yang dekat, keduanya tidak pernah berprasangka demikian.

Boleh jadi keduanya tidak hapal dengan ayat Al-Qur'an tentang rezeki yang min haitsu laa yahtasib. Tetapi saya yakin, keduanya, juga kita, paham bahwa rezeki itu datangnya bisa tidak disangka-sangka. Tetapi sementara kedua sopir di atas sudah mempraktekkan pemahaman itu di kehidupan keseharian, kita sendiri barangkali masih berkutat pada tataran teori.

Jika Nabi Musa pernah belajar kepada Khidir, kita yang bukan siapa-siapa ini tak ada salahnya belajar pada orang-orang sederhana seperti kedua sopir taksi di atas. Benar juga sebuah tulisan yang say a baca terpampang di sebuah Sekolah Merdeka di tepi Ranu Klakah Lumajang, dan selalu terpatri dalam ingatan saya hingga kini: jika semua tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru. Dan Pak Firmansyah serta Pak Endang, adalah guru saya hari ini. Wa Allahu a'lamu bi ash-shawab. Bahtiar HS


NB: Sebuah Taushiyah dari Ust. Yusuf Mansur

Baca Selengkapnya ....

Sudah Bersyukurkah Kita??

Posted by DIAZ Thursday, January 31, 2013 0 comments
Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.

Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.

Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"


Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"
Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.

Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.

Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!

Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.

Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu

Baca Selengkapnya ....
Tutorial SEO dan Blog support Cikaha Fashion Store - Original design by Weeldan | Copyright of Blogging Yuuk!!.

Followers