Jangan Bangga Dengan Mobil Murah

Posted by DIAZ Saturday, September 21, 2013 0 comments

Terlalu lama bangsa ini dibodohi dan dijajah oleh ATPM asing pedagang mobil jepan, mobil jepang di sini itu mahal, overpriced! margin keuntungan mrk sangat besar dg kualitas rendah dan tdk aman! Di Jerman harga honda jazz hanya Rp 118jt, di Jkt Rp 200jt dg kualitas di bawah standar internasional! Dg modal produksi lebih rendah mereka jual mobil dg harga lebih tinggi drpd di negara lain dan bodohnya tetap dibeli oleh bangsa ini, ini sdh berlangsung puluhan tahun. 
Dg modal 30jt "mobil murah" mereka jual 70jt tetap laku. Monopoli ini sdh berlangsung 40th lebih. Seusia kalian semua, atau bahkan lebih!?

Berlimpah kekayaan begundal sindikat Astra Toyota-daihatsu honda suzuki mitsubishi nissan-datsun mazda, mereka mengeruk uang rakyat indon sejak masa orba 1969, menjajah dan mendominasi industri, menghisap devisa bangsa menekuk pemerintah sejak Soeharto s/d Sby, mereka berhasil mengatur pemerintah RI agar memperbanyak bangun jalan tol ketimbang bangun Rel-Kereta. Menggusur sawah subur serta pemukiman.
Alih-alih memperbanyak Rel-Kereta utk. angkutan massal-murah tdk macet!!

Berbeda dg India, thai, china, korea dan malaysia yg pemerintahnya berani melawan monopoli jepang dlm industri otomotif! hingga jika jepang pergi pun mereka tetap bisa bikin mobil sendiri, tapi indon tak akan pernah bisa bikin mobil sendiri tanpa jepang! Karena pemerintah dan begundalnya dibikin jadi kacung-jongos yg tergantung kpd Jepang. Melalui berbagai UU dan Perpu.
Dan indon tetap bodoh dalam industri !! Seperti juga kontrak-karya dlm pertambangan dll..dst....

Kota besar akan makin macet oleh serbuan mobil import LCGC yg sebenarnya tdk murah itu, karena harganya tdk sebanding dg performanya.
Nafsu konsumerisme akan makin meningkat. Bagi yg kurang mampu dan baru punya motor akan berusaha punya mobil murah.
Yang jadi pertanyaan adalah, apakah dgn adanya mobil-asing murah ini nanti angka tindak korupsi akan meningkat?

Baca Selengkapnya ....

Wahai Jamaah Haji, Hati-hatilah terhadap Syiah

Posted by DIAZ Friday, September 20, 2013 0 comments
NahiMunkar.com

Berhati-hatilah dari Syi’ah, jangan pernah tertipu, jangan pernah menerima apa pun dari mereka. Sebab, apa pun yang berasal dari mereka baik ideologi, maupun bantuan moril dan materil hakikatnya adalah racun pembunuh!

Di tempat suci Masjid Haram Makkah dan Madinah pun para penjahat dari Syiah tetap melakukan aksi jahatnya untuk mencelakakan Umat Islam.

Inilah salah satu beritanya.

***

Seorang Laki-laki Syiah Tertangkap Basah Mengedar Permen Penyebab Kemandulan di Tempat Shalat Wanita di Masjid Nabawi

SELASA, JULI 02, 2013 LPPI MAKASSAR

Seorang pemuda Syi’ah Iran ditangkap oleh petugas keamanan Masjid Nabawi, Madinah al-Munawwarah. Ia masuk ke masjid bagian wanita, dengan memakai abaya dan cadar, sambil membagikan makanan ringan/manisan kepada gadis-gadis belia di Masjid Nabawi. Makanan tersebut mengandung zat yang membuat mandul (Infertilitas).

Sungguh licik dan busuknya akal syi’ah. Mereka tidak berani menyerang dan membunuh kaum muslim Saudi secara terus terang, lantas mencari cara licik untuk membunuh generasinya secara pelan dan tersembunyi. Tentu yang lebih berbahaya, bahwa wanita dan gadis yang ada di Masjid Nabawi juga berasal dari seluruh negara dunia, termasuk Indonesia. Ini adalah modus terbaru, setelah sejak puluhan tahun lalu Syi’ah dari Iran dan negara lainnya aktif mengedarkan narkoba ke negara berpenduduk mayoritas muslim sunni.

Berhati-hatilah dari Syi’ah, jangan pernah tertipu, jangan pernah menerima apa pun dari mereka. Sebab, apa pun yang berasal dari mereka baik ideologi, maupun bantuan moril dan materil hakikatnya adalah racun pembunuh!
lppimakassar.com

Baca Selengkapnya ....

Kisah Detik

Posted by DIAZ Thursday, September 19, 2013 0 comments
Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.

"Hai jam, apakah kamu
sanggup berdetak 31,104,000 kali selama setahun?" "Ha?", kata jam terkejut, "Mana sanggup saya?"

"Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?"

"Sebanyak itu? Dengan
jarum yang ramping-
ramping seperti ini?",
jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?"

"Dalam satu jam 3.600 kali?
Banyak sekali itu",
jawabnya dengan ragu.

Tukang jam itu dengan
penuh kesabaran kemudian berbicara kepada si jam,
"Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali
setiap detik?"

"Nah, kalau begitu, aku
sanggup!", kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai
dibuat, jam itu berdetak
satu kali setiap detik.

Tanpa terasa, detik demi detik berlalu dan jam itu sangat luar biasa karena ternyata selama satu tahun
penuh dia telah berdetak tanpa henti sebanyak 31.104.000 kali..

Ada kalahnya kita ragu
dengan tugas yg begitu
berat. Namun, sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya,
kita ternyata mampu, jangan pernah kalah sebelum berperang.

SubhanALLAH...

"Semoga ALLAH bimbing kita dan menjadikan kita agar kita senantiasa kuat dan tegar menghadapi segala persoalan yang kita hadapi. aamiinn "


Semoga bermanfaat :-)

Baca Selengkapnya ....

Sepenggal Kisah Umar, Salman dan Seorang Pemuda Shalih

Posted by DIAZ Monday, September 16, 2013 0 comments
Umar bin khattab sedang duduk di bawah sebatang pohon kurma. Surbannya di lepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis di beberapa bagian. Di atas kerikil ia duduk, dengan cemeti umatar nya tergeletak di samping tumpuan lengan. Di hadapannya para pemuka shahabat bertukar pikiran dan membahas berbagai persoalan. Ada anak muda yang tampak menonjol di situ. Abdullah ibn Abbas. Berulang kali Umar memintanya berbicara.

Jika perbedaan wujud, Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu Abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekum menyimak. Ada juga Abu Dzar Al-Ghifari yang sesekali bicara berapi-api.

Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya. “Wahai Amirul Mukminin,” Ujar salah satu berseru-seru, “Tegakkanlah hukun ALLAH atas pembunuhan ayah kami ini!”

Umar bangkit. “”Takutlah kalian kepada ALLAH!” hardiknya, “Perkara apakah ini?”

kedua pemuda itu menegaskan bahwa pria belia yang mereka bawa ni adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahwa si pelaku ini telah mangaku. Umar bertanya kepada sang tertuduh. “Benarkah yang mereka dakwakan kepadamu ini?”

“Benar wahai Amirul Mukminin!”

“Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal!” ujar Umar menyelidik dengan teliti. “Ceritakanlah kejadiannya!”

“Aku datang dari negeri yang jauh” kata belia itu. “Begitu sampai di Kota ini ku tambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebunmilik keluarga mereka. Ku tinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatuhajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka.”

“Saat aku kembali,” lanjutnya sembari menghela nafas, “Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas menggenaskan. Melihat kejadian itu, aku di bakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada ALLAH karenanya”

Umar tecenung.

“Wahai Amirul mukminin,” kata salah satu dari kedua kakak beradik itu, “Tegakkanlah hukum ALLAH. Kami meminta qishash atas orang ini. Jiwa dibayar dengan jiwa.”

Umar melihat pada belia tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi.

“Bersediakah kalian,” ucap Umar ke arah dua pemuda penuntut Qishash, “Menerima pembayaran diyat dariku atas nama pemuda ini dan memaafkan nya?”

Kedua pemuda itu saling pandang,”Demi ALLAH, hai Amirul mukminin” jawab mereka, “Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. keberadaannya di tengah kami takkan terbayar dan terganti dengan diyat sebesar apapun. Lagipula kami bukanlah orang miskinyang menghajatkan harta. Hati kami baru akan tenteram jika Had di tegakkan!”

Umar terhenyak. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya pada sang terdakwa.

“Aku ridha hukum ALLAH di tegakkan atasku, wahai Amirul Mukminin” kata si belia dengan yakin. “Namun ada yang menghalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kembali pada mereka. demikian juga keluargaku. aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil Jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka sembari berpamitan memohon ridha dan keampunan ayah ibuku”

Umar terhenyuh. Tak ada jalan lain. hudud harus di tegakkan. Tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus di tunaikan. “Jadi bagaimana?” tanya Umar.

“Jika engkau mengijinkanku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembali ke daerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi ALLAH, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai putra Al-Khattab”

“Adakah orang yang isa menjaminmu?”

“Aku tidak memiliki seorangpun yang kukenal di kota ini hingga dia bisa kuminta menjadi penjamin ku. Aku tak memiliki seorangpun penjamin kecuali ALLAH yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

“Tidak! Demi ALLAH, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak bisa mengizinkanmu pergi.”

“Aku bersumpah dengan nama ALLAH yang amat keras azabnya. Aku takkan menyalahi janjiku.”

“Aku percaya, tapi tetap harus ada manusia yang menjaminmu!”

“Aku tak punya!”

“Wahai Amirul Mukminin!” terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah ia menunaikan amanahnya!” inilah dia, Salman Al Farisi yang tampil mengajukan diri.

“Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?”

“Benar. Aku bersedia!”

“Kalian berdua kakak beradik yang mengajukan gugatan,”panggil Umar, “Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? Adapun Salman demi ALLAH, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat”

Kedua pemuda itu saling pandang. “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.

—————————————————————-

Waktu tiga hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. Umar gelisah tak karuan. Dia mondar mandir sementara Salman duduk khusu’ di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.

Waktu terus merambat. Belia itu masih belum muncul.

Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para shahabat berkumpul mendatangi Umar dan Salman. Demi ALLAH, mereka keberatan jika Salman harus di bunuh sebagai badal. Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia di hormati. Dia dicintai.

Satu demi satu, dimulai dari Abi Darda’, beberapa shahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan padanya. Tetapi Salma menolak. Umar juga menggeleng.

Matahari semakin langsir ke Barat. Kekhawatiran Umar makin memuncak. Para shahabat makin kelut dan sedih. Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terpidana.

“Maafkan aku,” ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, urusan dengan kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat istirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggal di tengah jalan. aku harus berlari-leri untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat.”

Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini merasakan satu sergapan iba. semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan yang mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu.

“Pemuda yang jujur” ujar Umar denganmata berkaca-kaca, “Mengapa kau datang kambali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?”

“Sungguh jangan sampai orang mengatakan,” kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “Tak ada lagi orang yang tepat janji. dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum muslimin”

“Dan kau Salman,” kata Umar bergetar, “Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?”

“Sungguh jangan sampai orang bicara,” ujar Salman dengan wajah teguh, “Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai adayang merasa, tak ada lagi saling percaya di antara orang-orang Muslim.”

“ALLAHU AKBAR!” kata Umar, “Segala puji bagi ALLAH. kalian telah membesarkan hati ummat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!”

Pemuda itu mengangguk Pasrah.

“Kami memutuskan…” Kata kakak beradik penggugat tiba-tiba menyeruak, “Untuk memaafkannya.” mereka tersedu sedan.

“Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan tepat janji. Demi ALLAH, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada ALLAH atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin”

“Ahamdulillah!, Alhamdulillah!” ujar Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan Asma ALLAH, yang kemudia bahkan diikuti oleh semua hadirin.

“Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Umar pada kadua ahli waris korban.

“Agar jangan sampai ada yang mengatakan,” jawab mereka masih terharu, “Bahwa di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang”

———————————————————————————-

Saudara seiman itu adalah dirimu

hanya saja dia itu orang lain

sebab kalian adalah satu jiwa

hanya saja kini sedang hinggap di jasad yang berbeda

-Al Kindi-

Salim A Fillah_Dalam Dekapan Ukhuwah


Baca Selengkapnya ....

Kesederhanaan Cinta Yang Sempurna

Posted by DIAZ Sunday, September 15, 2013 0 comments

Selama ini aku bingung dengan nasehat cinta yang aneh itu. Beberapa waktu kemudian saat aku pulang ke kampung halaman (kota Malang) setelah lima tahun bekerja di luar kota, aku tersadarkan. Lebih tepatnya, orang tuaku yang menyadarkan aku.

Ayah dan ibuku masih memelihara kebiasaan lamanya yaitu sarapan bersama dengan hidangan yang cukup beragam karena ibuku tahu bahwa ayah tidak suka makanan yang tidak banyak sayur dan buah. Di hari kepulanganku, ibu menyajikan kue lumpur yang super gosong.

Kalau dipikir-pikir, mungkin ayah tak akan memakan kue lumpur tersebut walau itu adalah kue kesukaannya. Namun, pada akhirnya ia tetap memakan dengan lahap sambil tersenyum dan mendengarkan cerita ibuku atau aku. "Bagaimana Surabaya?" kata ayah masih sempat bertanya padaku.

"Baik, Pak. Betah kok kerja di sana," jawabku.

Namun dibanding menjawab pertanyaannya, aku lebih memilih untuk mengamati ekspresinya. Ia tidak kelihatan senang dengan terpaksa di depan istrinya saat makan kue lumpur itu.

Aku ingat, beberapa tahun lalu saat adikku masih balita, pekerjaan rumah ibu banyak sekali. Kadang ia masak sampai gosong, keasinan, lupa garamkarena banyaknya yang ia lakukan, yang mana anak-anaknya akan menyisakan makanan itu di piringnya. Namun ayahku tidak, dia akan menghabiskannya, bahkan meminta kami ikut menghabiskan juga.

Tapi saat itu aku hanya tahu bahwa itu tentang 'tidak membuang-buang makanan'. Kini, aku tahu alasan yang lebih besar dari semua itu.

Siang itu juga, ayah mengajakku memancing di kolam umum di dekat rumah tepatnya di kota Malang. Kami berbekal pisang goreng buatan ibu. Kali ini lagi-lagi agak gosong. Maka, kutanyakan pada ayah, mengapa ayah suka makanan gosong. Dan begini jawabannya.

"Sejak menikah, ibumu berusaha keras menjadi istri terbaik bagi ayah. Mulai dari ia belajar memasak hingga anak-anaknya lahir ke dunia, ia tak hanya menjadi istri, tapi juga jadi ibu," kata Ayah sambil menerawang ke arah pancingannya.

"Banyak pekerjaan yang dia lakukan. Ada yang benar, ada yang berantakan. Ketidaksempurnaan seringkali membuat kita berpikir negatif," Ayah melihat ke arahku. "Namun karena Ayah melihat cinta dalam setiap jerih payah ibumu, semuanya nampak indah dan enak. Iya to?" ujarnya sambil tergelak dan menyenggol tanganku.

"Pisang goreng ini kesukaanmu, kan? Mungkin kamu hanya tahu kalau pisangnya gosong. Tapi, ayah tahu kalau ibu sudah merencanakan membuat pisang ini jauh-jauh hari. Rela ke pasar untuk cari pisang bagus, tidak nitip ke tukang sayur," kata ayah dengan senyum penuh makna.

Ia seperti bisa membaca pikiranku mengapa aku bertanya hal ini padanya. Aku cengengesan dengan agak tersipu malu. Ayah merangkul pundakku dan berkata, "Ibumu itu wanita hebat yang sudah bekerja sangat keras demi keluarga ini. Dia layak mendapatkan cinta yang bertubi-tubi. Lagipula, pisang goreng gosong sedikit nggak akan bikin sakit hati, to?"

Aku mengangguk. Aku kini mengerti dengan pola pikir ayah. Cinta itu hal yang sederhana. Abu gosong makanan tak perlu menjadi prahara baginya, itu hanya hal kecil yang tak perlu dibesar-besarkan. Yang penting dari sebuah hubungan cinta itu bukan tentang sempurna atau tidak sempurna, namun berusaha membuat sebuah hubungan selalu sehat, tumbuh dewasa dan tahan hingga selama-lamanya.

Baca Selengkapnya ....
Tutorial SEO dan Blog support Cikaha Fashion Store - Original design by Weeldan | Copyright of Blogging Yuuk!!.

Followers